Sebuah Pertanyaan Rezeki dari Surat Izin Mengemudi.

img_20190816_092613.jpg

Jika ditanyakan apa saja kegagalan saya, saya akan menjawab bahwa salah satu kegagalan (dan salah satu yang terbesar setahun ini, mungkin) adalah menjalani tes praktek SIM selama lebih dari satu tahun.

Tanggal 26 Juni 2018 adalah hari pertama saya mencoba untuk mengurus SIM saya. Melalui perantara ibu saya, saya mengetahui bahwa ayah saya tidak memperkenankan saya untuk menembak SIM. Harus benar-benar lulus tes.

Saya tidak tahu awalnya nilai apa yang mendasari orang tua saya untuk menyuruh saya untuk melakukan hal itu, bisa jadi untuk mengajari saya menjadi orang yang jujur (halah), atau karena mengurus SIM sendiri lebih murah (SIM C hanya 100 ribu, sedangkan “nembak” lewat seorang joki yang saya ceritakan nanti berkisar 800 ribu).

Namun pada akhirnya saya tahu. Alasan orang tua saya menyuruh untuk mengurus SIM sendiri adalah supaya saya tahu rasanya capek mengurus SIM. Seems absurd?

Singkat cerita, pada tanggal 26 Juni 2018 saya datang jam 6 pagi, dan antrian mengurus SIM baru sudah mengular sebanyak kurang lebih 40 orang. Padahal layanan baru dibuka jam 8 pagi.

Singkat cerita, nomor antrian saya dipanggil, mengisi formulir ini itu, difoto, dan melakukan tes teori. Saya berhasil mengerjakan tes teori sekali saja. Dan saya optimis bisa lulus tes praktek. Wong saya udah bisa naik motor sejak kelas 6 SD.

Kebetulan saya bertemu dengan seorang teman SD disana. Perempuan. Dan dia berhasil dengan mulus menyelesaikan tes prakteknya. Membuat saya semakin yakin bahwa saya bisa.

Ketika saya menggeber sepeda motor tes, belum ada 5 meter jalan kaki saya sudah turun dari sepeda motor. Percobaan kedua (polisi memberikan 2 kali kesempatan) sama saja. Saya gagal melewati dua pipa zig-zag. Saya mempertanyakan skill mengendarai motor dari 6 tahun naik sepeda motor.

Polisi bilang kalau saya harus mengulang minggu depan.

Saya dengar dan saya patuh. Halah kurang hoki aja itu. Ayah saya mengatakan “Kerjain aja Gil, kakak Nabil dulu gagal tiga kali terus diluluskan SIM motornya”.

Oalah 2 minggu lagi berarti saya bisa megang SIM saya.

Singkat cerita, saya gagal di minggu depannya, dan saya gagal lagi di minggu ketiga.

Saya bertanya pada pak polisinya apakah saya bisa diluluskan. Jawabannya singkat. Tidak. Pak polnya menambahkan bahwa saya harus mengulang sebanyak sebelas kali baru akan diluluskan. Saya melongo. omaigat gendenga ping sewelas ngulange.

Dan motivasi saya untuk mendapat SIM turun menjadi nol persen. Saya berangkat ke Kampung Inggris. Terus kesibukan belajar UTBK berbulan-bulan membuat malas mengurus SIM.

Singkat cerita, pada Juni 2019 (tepat setahun), sesudah tes UTBK, saya memulai upaya saya untuk lulus tes praktek (setelah dimarahin orang tua tentunya dengan alasan bentar lagi kuliah).

Veni, Vidi, Vici.

Aku lihat, aku datang, aku menang. Itu adalah slogan saya yang menggambarkan perjuangan saya untuk mendapat SIM saya selama dua bulan terakhir. Hanya saja perlu ada revisi pada slogan tersebut. Menurut saya: Aku lihat, aku datang, aku ngulang praktek minggu depan.

IMG_20190816_074711.jpg
Tujuan orang tua saya untuk membuat saya tahu capeknya mengurus SIM berhasil dengan tingkat pencapaian yang gemilang dan patut dibanggakan.

Saya hanya bisa memisuhi betapa buruknya kecerdasan motorik saya. Penderitaan saya berminggu-minggu ini berakar dari ketidakmampuan saya menyetir sepeda motor dengan baik dan benar. Namun selama mengulang tes praktek, ada kemajuan yang saya alami. Dari awalnya yang hanya bisa jalan kurang dari lima meter, pada akhirnya saya berhasil mencapai putaran angka 8 (walau gagal juga disitu).

Dan sebenarnya, poin yang ingin saya sampaikan (atau pertanyaan?) di tulisan ini bukan cerita diatas, namun cerita yang menyertainya.


Alkisah, pada tanggal 9 Agustus yang lalu, saya dan seorang polisi (yang mungkin sudah menghapal muka saya karena saya selalu hadir di tempat tes hampir 8 minggu berturut-turut) menghitung pencapaian kegagalan saya. Beliau (sebut saja pak W) menghitung bahwa saya sudah gagal sebanyak 10 kali.

Dan beliau mengucapkan sepotong kalimat yang membuat saya lebih bahagia dari melihat pengumuman UTBK (lebay).

Minggu depan kamu datang pagi. Saya luluskan.

Perjuangan saya selama setahun lebih ini membuahkan hasil. Beliau membubuhkan tanda tangan di pojok kiri lembar yang mencatat kegagalan saya selama 10 minggu ini.

Minggu depan. Batin saya bahagia.


16 Agustus 2019.

Pak W tidak masuk jaga pos praktek. Digantikan oleh polisi yang lain. Saya menjalani tes dengan super tidak niat. Karena sudah pasti lulus. Dan saya gagal. Tidak mengapa.

Ketika saya absen di bagian administrasi, bapak polisinya bilang sesuatu yang . . . .

Kamu ini baru tes 9 kali, balik lagi minggu depan.

. . . sakit sekali.

Saya membela diri bahwa saya sudah tes yang ke sebelas kalinya. Sialnya, Pak W tidak ada untuk membela saya.

Petugas administrasinya menyuruh saya untuk menghitung jumlah kegagalan saya. Ketika menghitung saya juga hanya menemukan bahwa stempel biru tanggal hanya berjumlah sembilan. Kemana 3 nya? (mungkin karena panik saya jadi setengah mengiyakan bapak petugas administrasi).

Saya mengutip ucapan Pak W kepada bapak petugas administrasinya. Namun saya keok juga ketika bapaknya menghitung ulang stempel yang ada. Berjumlah 9. fix 3 stempel ilang entah kemana.

Saya mencoba menemui bapak polisi yang tadi menggantikan Pak W. Beliau hanya bilang, “Kalau Pak W udah bilang lulus ya udah. Kamu tunggu Pak W saja”. Dan bapaknya kembali fokus untuk mengawasi jalannya tes praktek.

Saya menemui bapak petugas administrasi untuk kedua kalinya, dan mencoba menego.

“Pak, coba lihat absensi minggu lalu pak, disana tertulis kalau saya udah tes yang kesepuluh kalinya”

“Ya udah engga ada lah absensinya” Kata bapaknya ketus. Dan bapaknya mulai marah karena saya tetep ngeyel kalau saya sudah tes sepuluh kali. Karena saya bukan tipikal orang yang berani ribut sama orang, maka saya keluar dari pos polisi itu.

Di parkiran sepeda motor, saya menunjukkan raut muka yang sangat kesal. Dan air muka saya terbaca oleh seseorang yang mengajak saya untuk duduk.

“Kenapa mas?” dia bertanya.

Saya menceritakan panjang lebar mengenai hal yang saya alami, bagaimana perjuangan sebelas minggu saya sia-sia. Saya tidak mungkin bisa mengulang minggu depan dan seterusnya. Hari Jumat (jadwal saya mengulang SIM selalu hari Jumat) selalu ada jadwal kelas di FKUB (Hari sabtu juga tidak bisa karena ada ospek fakultas satu semester). Kesempatan saya terakhir hanya hari ini. Saya baru bisa mengulang tes praktek semester depan.

Bapak itu mengatakan sesuatu yang menurut saya sangat menginspirasi (untuk ukuran remaja tanggung yang sedang emosi).

“Kalau bukan rezeki, sekeras apapun kamu mengejarnya maka kamu engga akan dapat. Tapi kalau sudah rezeki, maka bisa jadi ia akan datang dari arah yang tidak kamu sangka-sangka”

Beliau menunjukkan chat WA dari para client bisnisnya (bapaknya tidak menjelaskan pada awalnya bisnisnya apa). Dia menceritakan bahwa sudah berkali-kali ia ditipu oleh client nya. Namun ia memegang teguh prinsip yang tadi saya jabarkan diatas dan menambahkan.

“Kalau kita merelakan apa yang sebenarnya bukan rezeki kita, maka hati kita rasanya plooong sekali.”

Dan saya terpengaruh, mulai meyakini bahwa memang SIM ini bukan rezeki saya hari ini. Mungkin suatu saat nanti. Dan saya berdiri, mengucapkan terimakasih kepada bapak tersebut, dan berjalan mengambil motor saya di parkiran, hendak pulang ke rumah. Karena saya merasa kemungkinan mendapat SIM hari ini sudah nol persen.

Tapi entah sel otak mana dalam tempurung kepala saya yang menjerit, menggerakkan tangan saya untuk memencet nomor telepon ayah saya.

“Yah, SIM nya ada masalah. Ayah bisa nggak datang ke tempat SIM nya?”.

Entah kenapa saya mengambil keputusan itu. Dan menunggu ayah saya datang.

Singkat cerita, ayah saya datang. Dan bergegaslah kita ke tempat ngurus SIM lagi. Disana ayah saya langsung menuju seorang polisi (yang lumayan galak karena saya tahu dari sebelas minggu mengurus SIM, saya melihat puluhan orang sudah disemprot oleh bapak itu, dan itu salah satu alasan kenapa saya tidak berani protes SIM saya ke bapak itu).

Setelah berbincang bincang sejenak, ayah saya memanggil saya yang duduk di kejauhan.

“Dimana mapmu?” Kata polisi galak itu.

Setelah mengecek map tersebut, betul apa yang saya perkirakan, bapaknya memarahi saya.

“Gini aja masih orang tuanya yang datang ngurusin, sudah besar kok masih belum mandiri, Malu!”. (dengan jawa kasar yang sebenarnya lebih galak lagi). “Ini kan sudah selesai!”, kata Pak Pol Galak sambil menunjuk tanda tangan Pak W di pojok kanan bawah absensi. “Sana urus sendiri ke meja administrasi! Mosok wes gede jek ngandalno wongtuone!”.

Ketika saya di meja administrasi, bapak administrasi itu masih saja ngeyel. Dan bapak administrasi itu beranjak menanyakan kepada Pak Pol Galak. “Lo pak, kan Pak W nggak masuk?”

Pak Pol Galak menjawab “Lah itu sudah jelas jelas ditandatangani sama Pak W, Stempelkan!”.

Saya merasa puas melihat bapak administrasi itu setengah dimarahi oleh Pak Pol Galak.

Dan pada akhirnya, saya dinyatakan lulus SIM setelah drama hampir satu jam.

IMG_20190818_235240.jpg
11 minggu kuuuu

Pertanyaan saya yang berasal dari ucapan bapak yang saya temui di tempat parkir tadi adalah : sebenarnya gimana teknis rezeki itu dibagikan? Bayangkan jika saya percaya bahwa SIM itu bukan rezeki saya, dan saya memutuskan untuk pulang. Maka pada hari itu, 16 Agustus 2019, SIM a.n. Muhammad Agil Wijaya Faradis tidak akan tercetak.

Yang saya pikirkan, dari kepasrahan saya tadi, masih ada sedikit ruang yang saaaangat kecil untuk tidak pasrah dan tetap mengejar tujuan saya.

Yang saya tanyakan, apakah berkawan dengan kepasrahan adalah sebuah kesalahan? Apa batas-batas yang menandakan seseorang sudah boleh pasrah kepada Tuhan?

Jika ditarik lebih jauh, berdasarkan pengalaman saya sendiri, ketika saya mengikuti lomba, selalu pada H-1 saya tidak belajar dan memasrahkan usaha saya kepada Tuhan. Yang saya takutkan, sebenarnya yang saya lakukan bukan memasrahkan diri kepada Tuhan, namun membungkus kemalasan saya dalam kemasan yang lebih religius, lebih suci.

Jika saya mengimplementasikan apa yang saya dapat pada hari saya mengurus SIM, jujur, saya bingung. Saya takut, dalam hidup saya, saya sudah berkali kali berhenti melakukan sesuatu atas nama pasrah kepada Tuhan. Lalu ketika saya tidak mendapatkan sesuatu yang saya kejar, maka saya beralasan, Ah, bukan rezeki saya.

Apakah saya harus belajar terus hingga menjelang satu detik lomba akan dimulai baru saya boleh pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa? Atau bagaimana?

NB:

1. Bapak yang saya mengajak saya mengobrol sebenarnya adalah joki/calo SIM dengan cara nembak. Dari obrolan WA nya yang ditunjukkan kepada saya, saya menangkap bahwa yang disebut bapak itu ketika bapak itu ditipu adalah ketika SIM hasil nembak sudah jadi, dan client beralasan bahwa dirinya sedang butuh uang, orangtuanya sakit dll, lalu minta izin membawa SIM dan kabur tanpa membayar biaya nembak SIM yang ternyata mencapai 800.000 rupiah (900.000 untuk SIM A)

2. Melihat betapa capeknya mengurus SIM, maka kedepannya saya ingin anak saya nantinya mengurus sendiri SIM nya, supaya saya bisa tertawa-tawa jika anak saya menelpon jika dia terbentur masalah dalam mengurus SIM. 😗

Iklan

Kenapa Jadi Besar?

Ketika mampir sebentar ke Gramedia kemarin, saya melihat Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Saya kaget. Kok jadi besar dan tebal bukunya? Seingetku kecil deh.

 

 

Ketika di rumah, saya membandingkan dengan Bekisar Merah milik ayah saya yang dibeli tahun 2002.

img_20190705_211610.jpg
Burem tapi bandingannya harusnya keliatan jelas.

Dan saya coba bandingkan dimensinya dengan novel-novel saya yang kira kira seukuran dengan Bekisar Merah yang ada di Gramedia tadi (Kira-kira Bekisar Merah terbitan 2018 ya seukuran Cantik itu Luka & Aroma Karsa lah)

img_20190705_210841.jpg
Saya bandingin antara GPU sama Bentang.

Terlihat jelas perbedaan ukurannya. Dan yang jelas, saya tidak suka semakin lama buku semakin besar ukurannya. Buat apa? Saya ingat dulu saya pernah membawa Bekisar Merah terbitan 2002 itu pakai tas yang saya sertakan di foto. Dan itu bisa masuk.

Sedangkan novel-novel yang besarnya sedemikian itu pasti harus dibawa dengan tas yang lebih besar. Masa saya beli tas baru lagi? Apakah Penerbit zaman sekarang berkonspirasi dengan perusahaan tas agar angka penjualan tas naik?

Dan yang saya bikin kesal, spacing di novel itu kadang kurang ajar. Itu yang bikin novel jadi bikin tebel. Sesuatu yang harusnya tidak perlu.

Untitled-1
Perbandingan antar 2 novel yang engga perlu saya sebut namanya.

Seingat saya, ketika saya melihat novel impor teman-teman saya, dan membetak (bukan betak sih sebenarnya, itu lain cerita) novel luar negeri dari ruang kelas Bahasa Inggris SMA saya, ukuran panjang kali lebarnya juga seukuran dengan Bekisar Merah tahun 2002 itu. Ukuran font nya, spacing ini itunya. Dengan ukuran yang lebih kecil, buku akan lebih fleksibel dibawa kemana-mana.

Toh ketika kita SD ukuran  font buku cetak besar sekali, spacingnya juga mahalebar. Lalu ketika kita SMP  dan SMA mulai mengecil, hingga buku textbook kuliah tulisannya kecil dan spacingnya maharapat.

Masa semakin lama novel terbitan Indonesia jadi mundur sekelas anak SD?

 

Dalam pikiran netizen saya yang suka nyinyir, alasan buku ditebelin itu supaya ego pembacanya ketika menyelesaikan buku tersebut seolah-olah habis melaksanakan tugas yang mahaberat. Lalu cekrek sana cekrek sini upload instagram jadilah kelihatan seperti orang intelek yang suka baca buku tebal tebal. Kalo tipis mana instagrammable?

Ealah lebay banget gil.

[Book Review] Nine Lives : My Time as MI6’s top spy Inside al-Qaeda

Image result for Nine Lives : My Time as MI6's top spy Inside al-Qaeda


Rate : ★★★★★

Aimen Dean (bukan nama sebenarnya) menjadi Hafiz quran diumur belasan, pergi ke medan perang Bosnia pada umur 15 tahun, lalu menjalani masa remajanya dalam front perang Chechnya, Pakistan, Afghanistan, hingga Filipina. AD kemudian bersumpah dihadapan Osama bin Laden pada umur 19 tahun dan masuk dalam ring-1 Al Qaeda. Karena tidak setuju dengan aksi Al Qaeda yang mengakibatkan jatuhnya korban sipil, ia membelot dan bekerja sebagai agen ganda intelijen Inggris.

Lanjutkan membaca “[Book Review] Nine Lives : My Time as MI6’s top spy Inside al-Qaeda”

Schadenfreude

Grodak!

Semenjak saya pindah rumah ke kawasan Joyosuko 12 tahun yang lalu, mungkin ini sudah puluhan ribu kali saya melindas polisi tidur (prediksi yang berlebihan), ribuan kali bagian bawah sepeda motor saya meng-gosrok polisi tidur (ngayal yang berlebihan), dan emosi saya yang memuncak hingga ingin mengambil linggis dari rumah dan menghantam polisi tidur satu persatu hingga rata dengan tanah (no exaggeration at all).

Betapa tidak, jika Anda mengambil peta dan menjadikan rumah saya sebagai pusatnya, lalu menggambar lingkaran dengan radius sekitar 600 meter, maka Anda akan menemui sejumlah 98 polisi tidur siap menyapa Anda setiap hari di kawasan Joyosuko ini.

Ketika ada proyek dari kelurahan untuk mengganti jalan paving yang rusak, saya senang sekali ketika polisi tidur samping rumah dikikis untuk pembangunan jalan yang baru. Namun euforia saya tidak berlangsung lama. Ketika proyek selesai, beberapa orang warga membangun polisi tidur yang lebih besar, lebih lebar, dan lebih tinggi dari sebelumnya. Dengan polisi tidur yang sekarang ini, tidak hanya bagian bawah sepeda motor saya yang digosrok polisi tidur itu, namun juga bawah mobil ayah saya dan mobil tetangga juga digosrok oleh polisi tidur tersebut.

Tidak hanya polisi tidur yang gemuk, dia juga pandai betul beranak pinak. banyak polisi tidur disini hanya berjarak 4-5 meter dari temannya.

Ketika saya mencari bagaimana sebetulnya cara membuat polisi tidur yang baik dan benar (saya mengambil contoh Asosiasi Transportasi Nasional Amerika), ternyata membuat polisi tidur itu banyak aturannya, mulai dari material, visibilitas, dimensi, karakteristik jalan yang boleh dipasangi polisi tidur, jarak antar polisi tidur, target kecepatan yang ingin dicapai, rambu-rambu, dan sebagainya.

polisi tidue
fyi: 300-500 ft ≈ 100-150 meter. Bandingkan dengan jarak antar polisi tidur di dekat rumah saya yang berkisar 4-10 meter.

Prosedurnya pun tidak asal bikin sendiri, komunitas warga (anggaplah RT) membuat proposal, lalu disetor kepada pihak yang berwenang, lalu pihak yang berwenang melakukan survei, melihat apakah sudah memenuhi syarat atau belum.

polisi tidue
syarat dalam membuat polisi tidur

Setelah syarat-syarat tersebut terpenuhi, polisi tidur belum bisa dibangun, masih perlu persetujuan komunitas warga yang lebih luas lagi (katakanlah RW), bahkan perlu dievaluasi dari sisi transportasi umum dan emergensi macam ambulan dan sebagainya.

Mungkin ketika ahli transportasi diluar sana saya ajak untuk mampir ke rumah saya akan kejang-kejang melihat hasil karya tetangga tetangga saya yang suka melihat orang susah dan (mungkin) berjiwa psikopat.

Bonus: foto foto polisi tidur di Amerika & Kanada

 

Tomat dan Merasa Pintar

Pernahkah Anda mendengar sebuah kalimat:

Tomat secara biologis adalah buah, bukan sayur.

Jika pernah, Anda berarti sama dengan saya. Saya membaca kalimat itu ketika saya kelas 3 SD dari sebuah buku.

Saya terpesona mendengar kalimat itu, merasa mendapatkan intellectual revelation dan intellectual superiority dibandingkan orang orang yang menganggap tomat adalah sayur. Saya langsung menancapkan kalimat itu dalam otak saya, memeluknya seolah tenet yang diajarkan dalam kitab kitab suci. “Barangsiapa yang menganggap tomat adalah sayur, maka ia termasuk kaum-kaum yang bodoh,” batin saya.


Setelah 10 tahun menganggap tomat adalah buah, saya menyadari bahwa kalimat tomat tersebut sebenarnya 100% nonsensical.

Menganggap tomat adalah buah, bukan sayur,  sama halnya mengatakan bahwa kucing itu Felix, bukan hewan peliharaan.

[Book Review] : Orang Orang Biasa.

 


Rate : ★★★★

Novel ke-11 Andrea Hirata, menceritakan bagaimana 10 orang idiot merencanakan perampokan bank untuk membayar uang muka pendaftaran seorang anak miskin yang ingin masuk Fakultas Kedokteran.

Pencurian malam hari: 2
Pencurian siang hari: 3
Pencurian sendiri: 1
Pencurian bersama-sama: 1
Pencurian dengan pemberatan: 0
Pencurian kendaraan bermotor: 1

Sebatang kapur dan penghapus tergeletak di bawah papan tulis itu. Tampak benar telah sangat lama tak dipakai. Demikian minim angka-angka itu sehingga tak bisa dijadikan diagram batang, diagram kue cucur atau diagram naik-naik ke puncak bukit. Rupanya di kota ini, penduduknya telah lupa cara berbuat jahat.

Mata Inspektur semakin sendu menatap papan tulis itu. Keadaan yang tenteram ini perlahan-lahan membuat polisi di dalam dirinya terlena, lalu terbaring, lalu pingsan, lalu mati. Inspektur sungguh khawatir. Wahai kaum maling, ke manakah gerangan kalian?

Setelah menyisihkan THR saya untuk membeli buku, pertanyaan berikutnya adalah buku apa yang saya beli. Setelah berjam-jam mengeliminasi pilihan, pilihan saya mengerucut pada 2 pilihan, antara Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan, dan novel Orang Orang Biasa karya Andrea Hirata.

Melihat Andrea Hirata menulis novel kriminal, dan ditambah terakhir saya membaca novel Andrea sekitar 4 tahun yang lalu, membuat saya sedikit kangen, dan memutuskan untuk memboyong novel bercover kuning tersebut.


Cerita berpusing kepada 9 gerombolan penghuni tetap bangku belakang, terkumpul secara alamiah berdasarkan kecenderungan bodoh, aneh, dan gagal, sembilan anak berderet-deret dibangku belakang itu: Handai, Tohirin, Honorun, Sobri, Rusip, Salud, dan tiga anak perempuan: Nihe, Junilah, dan Dinah.

Dalam lingkungan sekolah, dimana anak zaman sekarang suka bergerombol berdasar bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri, lahirlah triad pembuli: Trio Bastardin dan Duo Boron. Tentu sasarannya adalah penghuni kasta terbawah di alam semesta, yakni kaum bodoh, aneh, dan gagal.

Muncullah Debut, dengan idealismenya yang tinggi, ingin memperbaiki nasib para pecundang, bersatulah mereka menjadi 10 orang, melawan tirani Duo Boron dan Trio Bastardin. Walau ujung ujungnya keberanian itu habis dibabat setelah mereka digosrot oleh triad pembuli.

Di sudut lain Kota Belantik, duduklah Inspektur Abdul Rojali dan bawahannya, Sersan P. Arbi. Dua orang polisi, yang adrenalinnya sudah disedot habis karena keluguan warga Kota Belantik yang tidak mengenal kejahatan. Hari demi hari mereka lalui tanpa ada pekerjaan barang sehari pun kecuali untuk menandatangani surat tanda kelakuan baik. Inspektur merindukan masa masa dimana ia bertugas di kota provinsi, saat yang penuh dengan adrenalin, kejar-kejaran dengan penjahat layaknya film “Cepat dan Muntab”.

Kembali lagi dengan 10 pecundang ini, bedanya waktu sudah dipercepat sekian tahun kedepan. Namun tidak ada yang berbeda dengan kepecundangan mereka. Namun muncul sebuah anomali, Anak dari Dinah, Aini, menjadi antitesis dari 10 pecundang tersebut. Aini sangat cerdas, bahkan diterima pada Fakultas Kedokteran pada salah satu PTN. Namun Dinah tidak memiliki uang 80 juta untuk membayar pendaftaran dan uang muka.

10 orang pecundang ini berkumpul kembali atas nama solidaritas setelah bertahun tahun berpisah, merencanakan perampokan bank untuk membayar 80 juta itu.

Di sudut lain Kota Belantik (lagi).  Atas berita salah satu informan, inspektur mendengar akan ada perampokan di Kota Belantik, dan akhirnya inspektur menemukan sumber adrenalinnya setelah sekian lama.

Dan dari sinilah sesungguhnya kisah ini dimulai.


Latar Andrea Hirata menulis novel ini bisa dibaca disini, dan saya merangkumnya dalam beberapa paragraf dibawah ini.

Novel ini ini menjadi kritik Andrea Hirata akan realitas, dimana impian seorang anak kelahiran Belitung, Putri Andita Belianti, harus kandas karena orangtuanya yang hanya kerja serabutan tidak mampu membayar biaya pendaftaran ulang Fakultas Kedokteran sebesar Rp 13.500.000,00 .

Putri selalu menjadi 10 besar di SMAN 4 Lahat, dan berhasil lolos masuk FK Universitas Bengkulu lewat jalur SBMPTN 2013. Putri sudah mencoba ikut beasiswa Bidikmisi, namun tidak diterima.

Dan Putri hanya bisa pasrah ketika dia tidak bisa melunasi biaya pendaftaran, yang berarti Putri gagal melanjutkan mimpinya untuk masuk FK Universitas Bengkulu.

Tetangga Putri menyarankan agar orangtuanya menemui Andrea Hirata, namun ketika itu Andrea sedang tidak berada di Indonesia. Barulah orangtua Putri bisa bertemu dengan Andrea Hirata pada tahun 2017 setelah Andrea pulang kampung.

Andrea Hirata trenyuh mendengar cerita Putri, dan segera melobi pihak Universitas Bengkulu untuk menerima kembali Putri dan menjamin biaya pendidikan Putri, namun pihak universitas tetap tidak bisa menerima Putri dengan alasan tempo kelulusan Putri dan permohonan untuk diterima kuliah sudah terlalu lama.

“Tapi, bagaimana kalau kita tertangkap?” Dinah tetap pesimis

“Itu risiko yang patut kita ambil!” Bentak Debut.

“Tangkap! Tangkaplah orang miskin yang berjuang agar anaknya bisa sekolah! Kita ini bukan merampok, Dinah! Kita ini melawan ketidakadilan! Tengoklah banyaknya anak-anak pintar miskin yang tak dipedulikan Pemerintah! Tengoklah jurusan tertentu hanya dapat dimasuki oleh orang-orang kaya! Tengoklah langkanya anak-anak orang miskin jadi dokter! Mendaftar ke fakultas itu saja mereka tak berani! Padahal, kecerdasan mereka siap diadu! Ilmu hendaknyalah tunduk pada kecerdasan, bukan pada kekayaan! Para pemimpin, birokrat, politisi, sibuk dengan periuk belanga mereka sendiri! Tanpa merampok bank itu, sampai kiamat kau takkan bisa menyekolahkan anakmu di Fakultas Kedokteran!”

Tak pernah mereka melihat Debut Awaludin semuntab itu.

Pesan yang ingin disampaikan oleh Andrea Hirata ini sangat tegas sekali, namun ia berhasil menyublimkannya dengan kepolosan 10 orang idiot ini. Personifikasiannya selalu Out of the Box, dan yang menjadi ciri khas karya Andrea adalah orang polos, tokoh utama,  tokoh antagonis, tokoh sampingan, berebut porsi dalam penceritaan, dan entah kenapa saya suka.

Hanya saja beberapa masih ada yang kurang, dalam cover OOB, Jill Simmons menulis bahwa OOB adalah karya yang mampu mengejutkan khalayak setelah Laskar Pelangi. Tapi bagi saya masih kurang.

  • Dalam 70 halaman pertama, kita terombang-ambing dalam novelnya karena tidak tahu novel ini arahnya kemana (Bagian belakang cover dihabiskan untuk menulis pencapaian Andrea Hirata, bukan kisi-kisi cerita).
  • Beberapa karakter juga gagal dikembangkan, seperti figuran, tetapi figuran itu tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam novel tersebut, bahkan jika karakter itu di-delete dari OOB pun tidak ada masalah yang berarti. Padahal mereka punya potensi untuk dikembangkan (Bagaimana nasib Trio Bastadin? Duo Boron? Bu Atikah?).
  • Setelah konflik paling puncak, rasanya feel buku ini sebagai page-turner agak menguap. Selain karena banyak tokoh figuran yang tidak dikembangkan, banyak bahasan yang diulang-ulang rasanya.
  • 32 halaman dari novel ini adalah katalog Laskar Pelangi dalam berbagai bahasa. Apa ini tak berlebihan Pak Cik? Ini novel OOB Pak Cik, bukan terbitan ulang Laskar Pelangi.

 

 

19 Tahun Berguru.

Ada pesan dari guru Akidah Akhlak saya semasa SMA yang baru saya laksanakan sekitar satu tahun lebih setelah beliau berpesan.

Sederhana saja: Cobalah menulis seluruh nama gurumu.

Saya membuka Excel, dan pada grid pertama tentu yang saya tulis adalah ibu saya. Ibu adalah madrasah pertama saya, baru kemudian ayah dan kakak saya.

Saya stuck setelah itu.

Nama guru playgroupku siapa ya? Nama guru TK ku siapa ya?

Saya ketika playgroup hanya ingat bahwa saya adalah tukang bully. Suka merampas mainan teman, mengambil properti playgroup dan melemparnya ke empang dekat playgroup. Saya tidak punya ingatan sama sekali mengenai guru di playgroup. Mungkin saya akan menuliskan Mrs. X saja.

Begitupula dengan TK. Saya hanya ingat 2 guru TK saya. Ingatan saya di TK hanya sebatas yang awalnya saya berada di kasta atas dalam playgroup saya, sekarang anjlok menjadi kasta terbawah: menjadi anak yang dibully.

Ketika menuliskan guru SD, saya dengan mudah menuliskan nama nama beliau. Total ada 38 guru sejak kelas 1-6 SD yang saya ingat. Masa dimana saya mendapat ujian akhir 100 dengan mudah walau malamnya sibuk bermain petak umpet dengan anak anak tetangga.

Lalu tiba saat menulis guru SMP. Saya blank. Saya seperti tidak punya memori di masa SMP. Seolah saya baru lulus SD langsung menginjak SMA. Masa saya bersekolah di SMP umpama bayi berumur 0-3 tahun. Tidak ingat apa-apa, tahu-tahu sudah berumur 3 tahun. Setelah susah payah mengingat apa yang pernah saya lakukan di SMP, saya berhasil mengumpulkan 36 nama guru SMP saya.

Ketika menulis guru SMA, tentu mudah sekali, karena masih baru lulus tahun kemarin. Saya berhasil mengumpulkan 36 nama-nama beliau.

Setelah menambahkan guru guru diluar sekolah, saya berhasil mengingat 174 guru yang pernah mengajari saya selama 19 tahun saya hidup di dunia ini.

guruku tersayaang
Harusnya lebih dari ini 😦

Saya menyadari sesuatu yang lain daripada sekadar nama.

Ketika saya mengetikkan nama guru guru saya, ada sekelebat memori dalam setiap ketukan keyboard. Ada yang sekilas, ada yang panjang sekali hingga saya berhenti menulis.

Ketika menuliskan nama guru asrama saya semasa SMA, saya mengingat bahwa saya pernah bolos salat subuh berjamaah di masjid, sehingga saya harus sembunyi di kamar mandi. Dan ketika beliau mengecek kamar mandi, tangan beliau sebenarnya telah terjulur masuk ke kamar mandi, dan jarak tangan beliau ke badan saya sebenarnya kurang dari 5 cm (lampu kamar mandi mati saat itu, beliau tidak tidak bisa melihat saya). Namun tangan beliau berhenti, dan entah kenapa beliau tidak jadi mengecek kamar mandi saya, dan saya tidak jadi ketahuan bolos. Nama baik saya terjaga.

Di mata beliau, saya adalah anak baik-baik yang tidak pernah bolos salat subuh sehari pun.

Lagi lagi cerita guru SMA saya. Ketika itu adalah jam pelajaran terakhir. Saya masih ingat betul bahwa itu hari kamis. Barisan belakang kelas kami sudah bersedekap dengan muka menempel di meja. Barisan terdepan menahan kepala dengan tangan, walau ujung-ujungnya tidak ada bedanya dengan barisan belakang. Guru saya melihat keadaan kelas, menunjuk dengan tangannya kepada anak yang tertidur.

“Itu, kalian tiru itu anak yang tidur itu”

Deg. Saya baru masuk SMA ini sekitar 2 bulan. Masa udah ada masalah aja.

Anak yang tertidur itu bangun gelagapan setelah teman sebangkunya menyenggolnya.

“Loh jangan dibangunkan, lanjutkan aja tidurnya itu. Kalian semua saya perintahkan supaya niru yang tidur itu, jangan ada yang belajar.”

Saya berpikir ini sarkasnya sakit sekali.

Ternyata ini bukan sarkas. Beliau benar benar serius. Beliau menyuruh satu kelas untuk tidur. Pelajaran dihentikan, dan kita semua melanjutkan tidur di meja masing masing. Sampai pelajaran usai.


Dan ratusan memori saya dengan guru berpusing dalam rongga kepala saya.

Jika dihitung-hitung, sejak saya SD hingga SMA, saya selalu berangkat sekolah jam 7 pagi dan pulang jam 4 sore. Jika hari efektif belajar dihitung 300 hari dalam setahun, maka saya menghabiskan 32400 jam di sekolah. Jika ditotal dengan berapa jam saya hidup, maka 20% nyawa saya selama ini terpakai untuk duduk di bangku sekolah (23% jika playgroup dan TK dimasukkan).

Tapi ada yang aneh dari 32400 jam bersekolah itu.

Saya tidak ingat kalau saya pernah belajar. Saya tidak punya memori tentang seorang Agil yang menatap papan tulis dan mencatat pelajaran. Saya tidak punya memori seorang Agil yang duduk manis mendengarkan penjelasan guru mengenai A dan B. Begitupun dengan memori dalam menuliskan jawaban dalam LJK. Tahu tahu dapet nilai ujian jelek aja.

Tapi justru hal hal yang tidak berhubungan dengan pelajaran yang saya ingat. Seperti seorang kakak pengajar yang berinisiatif memberikan break 5 menit setelah melihat peserta didiknya tepar, seorang guru yang membawakan 27 bungkus kwetiau dan siomay untuk menyemangati saya dan teman teman saya yang akan berangkat lomba, dan seorang guru yang khawatir dengan nasib akademik saya menasihati saya di ruang guru sampai pukul setengah enam magrib.

Maafkan Agil yang kurangajar ini wahai gurunda, Agil tidak bisa besar tanpa jasa kalian semua 🙂